Batang (Humas) – Untuk meningkatkan kualitas pembinaan peserta didik, khususnya dalam menghadapi dinamika mental dan emosional remaja di lingkungan madrasah, Kelompok Kerja Madrasah Tsanawiyah (KKMTs) Kabupaten Batang menggelar Rapat Koordinasi Pembinaan bagi Kepala Madrasah dan Guru Bimbingan dan Konseling (BK) MTs se-Kabupaten Batang.
Kegiatan mengusung tema “Menumbuhkan Jiwa Preventif dan Regulasi Emosi Pengajar dalam Membimbing Mental Remaja Madrasah.” Hadir dalam kegiatan tersebut Plt Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Batang Munif,Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Luthfi hakim AE, para pengawas madrasah, kepala MTs, serta guru BK MTs se-Kabupaten Batang.

Ketua KKMTs Kabupaten Batang, Maskur, menyampaikan bahwa peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Batang perlu dipersiapkan dengan perencanaan yang matang dan dilakukan sejak awal. Menurutnya, forum koordinasi menjadi ruang penting untuk berbagi pengalaman, menyamakan persepsi, serta mencari solusi bersama atas berbagai persoalan yang dihadapi madrasah.
“Peningkatan mutu pendidikan harus disiapkan dengan sebaik-baiknya melalui perencanaan yang lebih awal. Mari kita manfaatkan forum ini untuk sharing dan berbagi pengalaman bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan, MTs merupakan lembaga pendidikan yang memiliki peran penting dalam membentuk generasi berkarakter dan religius. Karena itu, keberadaan dan kualitas madrasah perlu dijaga serta dikembangkan secara bersama-sama oleh seluruh pihak.
Sementara itu, dalam pembinaannya, Plt. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Batang, Munif, menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam mendampingi peserta didik. Menurutnya, anak-anak datang ke madrasah tidak hanya membawa potensi, tetapi juga emosi serta berbagai persoalan dari lingkungan keluarganya.
“Murid-murid kita datang ke madrasah tidak hanya membawa tas dan seragam, tetapi juga membawa potensi, emosi, serta berbagai persoalan dari lingkungan keluarganya,” jelasnya.
Dia menegaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada penyampaian ilmu pengetahuan, tetapi juga harus membangun karakter serta memberikan pendampingan sesuai dengan potensi dan persoalan masing-masing murid.
Secara khusus Dia mendorong guru BK untuk mengedepankan pendekatan humanis.
Guru BK katanya, jangan diposisikan sebagai “polisi madrasah”, melainkan menjadi sosok yang dapat dipercaya dan menjadi tempat murid untuk bercerita.
“Guru BK harus menjadi teman yang mampu didekati, tempat murid bercerita, didengar, dipahami, kemudian dibantu menemukan solusi. Pendekatan kepada murid harus dilakukan dengan hati dan secara humanis,” tegasnya.(Am/Zy_humas)
